Kepercayaan ini semakin menegaskan bahwa Watu Waru bukan sekadar benda mati, melainkan simbol hidup yang mencerminkan siklus kehidupan masyarakatnya.
Pernah suatu ketika, sebuah suku dari luar mencoba mengambil salah satu batu dari Bukit Melong. Namun, tak lama kemudian, batu tersebut kembali dengan sendirinya dan bergabung dengan batu-batu lainnya di puncak bukit—seakan menolak untuk dipisahkan dari asalnya.
Baca Juga: Kembangkan Wisata Halal, Kurma Park Pasuruan Jadi Destinasi Wisata Baru yang Menjanjikan
Kini, Watu Waru tetap berdiri kokoh sebagai warisan leluhur yang penuh nilai sakral dan budaya. Zakaria berharap generasi penerus Suku Melong akan terus menjaga dan merawatnya.
“Batu-batu ini bukan hanya peninggalan, tetapi jati diri kami. Harus dijaga selamanya,” tutupnya.***