Kepercayaan ini semakin menegaskan bahwa Watu Waru bukan sekadar benda mati, melainkan simbol hidup yang mencerminkan siklus kehidupan masyarakatnya.
Pernah suatu ketika, sebuah suku dari luar mencoba mengambil salah satu batu dari Bukit Melong. Namun, tak lama kemudian, batu tersebut kembali dengan sendirinya dan bergabung dengan batu-batu lainnya di puncak bukit—seakan menolak untuk dipisahkan dari asalnya.
Baca Juga: Kembangkan Wisata Halal, Kurma Park Pasuruan Jadi Destinasi Wisata Baru yang Menjanjikan
Kini, Watu Waru tetap berdiri kokoh sebagai warisan leluhur yang penuh nilai sakral dan budaya. Zakaria berharap generasi penerus Suku Melong akan terus menjaga dan merawatnya.
“Batu-batu ini bukan hanya peninggalan, tetapi jati diri kami. Harus dijaga selamanya,” tutupnya.***
Artikel Terkait
Wisata Murah Meriah untuk Keluarga, Taman Rekreasi Kota (TRK) Bangkalan
Wisata Gumuk Pecah di Jember Jawa Timur Viral Karena Mirip Land of Dawn Mobile Legends, Begini Penampakannya
Ingin Naik Jeep Wisata Kota Lama Surabaya Tapi Bingung Cara Memesannya? Mudah Saja, Simak Berikut Ini
Serunya Berwisata di Bukit Jaddih, Kolam Hijau dan Wisata di Bekas Tambang Madura