Pitutur.id - Unik, misterius, dan sarat makna budaya—itulah Watu Waru, warisan leluhur milik Suku Melong di Desa Mokel, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Lebih dari sekadar kumpulan batu, Watu Waru dipercaya sebagai cikal bakal lahirnya Suku Melong, sekaligus simbol kehidupan yang terus terhubung dengan para leluhur.
Baca Juga: Pesona Tersembunyi Sawah Terasering Ranah di Desa Mokel: Surga Hijau di Manggarai Timur
Terletak di puncak Bukit (Golo) Melong, Watu Waru terdiri dari batu-batu bulat dengan beragam ukuran. Keberadaannya bukan hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Suku Melong hingga hari ini.
Suku Melong sendiri merupakan komunitas kecil yang mendiami Desa Mokel. Bagi mereka, Watu Waru bukan benda biasa—melainkan representasi asal-usul dan identitas yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca Juga: Serunya Wisata Sambil Belajar di Nusantara Edupark Madiun
Zakaria Riba (87), Tua Teno atau tuan tanah Suku Melong, menuturkan kisah yang diwariskan dari para leluhur.
Menurutnya, batu-batu tersebut berasal dari nenek moyang pertama Suku Melong yang bernama Meka Matu, sosok yang pertama kali menetap di Bukit Melong.
“Ketika Meka Matu tinggal di atas bukit itu, Watu Waru muncul dengan sendirinya di hadapannya,” kisah Zakaria.
Baca Juga: Kembangkan Wisata Halal, Kurma Park Pasuruan Jadi Destinasi Wisata Baru yang Menjanjikan
Keunikan Watu Waru tidak berhenti di situ. Batu-batu ini diyakini memiliki hubungan erat dengan kehidupan anggota Suku Melong. Setiap kelahiran dipercaya akan menambah jumlah batu di puncak bukit, sementara setiap kematian akan mengurangi jumlahnya.
“Kalau ada anggota keluarga yang melahirkan, batu akan muncul dengan sendirinya. Sebaliknya, jika ada yang meninggal, batu itu juga akan hilang,” jelas Zakaria.
Baca Juga: 8 Destinasi Wisata Ngawi: dari Warisan Sejarah hingga Keindahan Alam dan Kerajinan Unik
“Jumlahnya selalu mengikuti jumlah anggota keluarga dalam Suku Melong," sabungnya.